
Berawal dari pemikiran dari rekan kami, Ester, tentang perlunya CPM untuk mengembangkan produk baru. Ya.. tidak dapat dipungkiri, kalau CPM ingin tetap exist, kami perlu memikirkan pengembangan produk baru. karena organisasi yang sama yang telah membeli produk kami untuk souvenir Natal mereka tahun 2008, belum tentu akan memesan produk yang sama untuk natal tahun 2009. Kami setuju untuk mulai memikirkan produk baru. Produk baru ini juga diperlukan agar kami dapat mengembangkan pasar ke souvenir pernikahan. Maka kami mulai mencoba menjajaki produksi produk baru, ada kipas, tas daur ulang, gantungan mote dengan bentuk anggur, bross, dsb. Dan yang terakhir tertunda lama adalah Clay.
Terinspirasi dari home industri yang dikerjakan oleh teman saya di Cirebon, kami mulai menjajaki untuk produksi clay. Dengan antusias saya membeli buku tentang clay dan juga bahan-bahan yang diperlukan . tetapi pada kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Masalah utama adalah menemukan komposisi adonan yang tepat. Dibutuhkan berkali-kali percobaan dan juga terus bertanya kepada orang yang pernah membuat clay sampai akhirnya kami dapat mulai berproduksi
Penelitian dan pengembangan produk clay ini sempat terhenti selama beberapa bulan. Kendala utamanya adalah waktu. Ya, segudang aktivitas dan pekerjaan telah menyita waktu dan pikiran saya. Sampai pada bulan Oktober kemarin, setelah kami sepakat untuk kembali bangkit dan mengejar untuk proyek Natal, saya mulai kembali melakukan uji coba. Saya berhasil membuat beberapa bentuk gantungan kulkas magnet, walaupun masih dengan komposisi adonan yang belum sempurna.
Memasuki bulan November 2009, jadwal saya menjadi semakin padat semenjak menerima untuk menjadi ketua panitia youth christmas di gereja saya. Meskipun sayalah ketua panitia Natal, tetapi saya tidak bisa memutuskan semua sendiri. Berkali-kali kami juga menghadapi kegentaran. Di mulai dari isu,bahwa tidak akan ada budget untuk souvenir untuk natal tahun ini. Saya tersentak kaget juga mendengar berita ini. Sepertinya kesempatan kami untuk mendapatkan order dari natal ini begitu kecil, nyaris tak mungkin. Tapi saya tetap mengajukan budget untuk souvenir.

Lalu panitia bagian souvenir sebenarnya sudah punya beberapa pilihan. Ketika mereka menjelaskannya di rapat, akhirnya saya memberanikan diri untuk memperkenalkan CPM. Puji Tuhan tanggapan mereka positif. Bahkan pendeta kami sangat mendukung kegiatan CPM. Namun tetap yang menjadi kendala adalah, ibu-ibu di sungai tiram sama sekali belum di training untuk membuat clay ini. Bagaimana saya harus memberikan kepastian kepada panitia Natal, jika kondisinya seperti ini? Dapatkah saya menjamin bahwa ibu-ibu bisa membuat clay ini? Dan apakah mereka sanggup untuk membuat 1000pcs dalam waktu 1 bulan? Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk melakukan training pada hari sabtu berikutnya. Beberapa hari sebelum training, saya sendiri terus mencari informasi dan melakukan uji coba terus.
Pada tanggal 7 november 2009, kami mengadakan training pembuatan Souvenir dari clay kepada ibu-ibu di sungai tiram. Puji Tuhan kami dapat melihat bahwa mereka sangat antusias.
Pada tanggal 10 november 2009, saya kembali dihubungi oleh kordinator bagian souvenir. Dia meminta kepastian dari saya apakah ibu-ibu di sungai tiram sanggup untuk membuat souvenir ini. Sebab jikalau tidak bisa, maka mereka akan mencari souvenir lain. Saya meminta waktu seminggu lagi untuk memberikan kepastian.