Berpikir, bertindak dan berperasaan seperti Yesus (1)
September 20, 2008 2 CommentsKalo aku lagi down, malas dengan hal-hal rohani dan sejenisnya…, aku akan menjumpai dan menyapa orang-orang sederhana di tempat kumuh, orang-orang tua di gubug-gubug, pergi kepada orang-orang yang terbaring di Rumah Sakit, ke Panti Asuhan atau Panti Jompo dan sebagainya yang biasanya dipandang hina… Di sana saya akan membagikan sebuah hadiah pada setiap pertemuan… Hadiahnya adalah sebungkus permen (kalo ada!), 15 menit mengungkit-ungkit berbagai-bagai pembicaraan, dan humor yang sehat… Sedangkan kalo aku bertemu dengan orang-orang yang lemah, sakit dan tua…terlantar…, aku akan membawa kue seharga Rp.500., untuk dihadiahkan kepada mereka…dan ditambah sepotong doa…yang khusus untuk mereka… Sepulangnya aku dari sana, aku akan dianggap malaikat yang datang menyapa mereka…
Pikirkan, bahwa tidak ada satu patah kata “terima kasih pun” yang dilontarkan secara gratis dari siapapun, kalo Tuhan tidak menghendakinya. Dan Tuhan menghadiahkan ucapan “terima kasih” itu bagi orang-orang yang melakukan kehendakNya; bahkan dalam hal-hal sederhana… Apakah ada orang yang akan berterima kasih jika kita melakukan kesalahan? Sampai hari ini, aku belum menemukannya… Tetapi untuk sepotong ucapan terima kasih, saya biasa mendapatkannya ketika saya hanya menunjukkan arah jalan… Dalam keadaan seperti ini, akau sering berpikir, bahwa “aku telah menjadi gambar Allah bagi orang-orang yang telah aku jumpai…”
Maksudku dengan sharing ini adalah, bahwa pertumbuhan rohani yang Tuhan kehendaki itu kadang-kadang melalui kemauan kita untuk merendahkan diri dalam berpikir, bertindak dan berperasaan… Dalam hal ini, Yesus telah menjadi teladan… Pikiran Kristus adalah semua orang diselamatkan; tindakkan-Nya, menerima salib; dan perasaannya adalah simpati kepada semua orang….
Sola Gratia,
Alfrey
Itulah sepenggalan surat dari seorang teman yang akhirnya menjadi perenungan di hari ulang tahunku yang ke 26 dan pada akhirnya membawaku pada pelayanan Cross Project ministy.
Saat itu aku begitu terhenyak, seperti tersadar dari sebuah mimpi panjang. Selama ini aku begitu sibuk dengan pelayanan dan pekerjaanku dikantor. Bahkan sebagai ketua komisi Pemuda, telah membuatku menghabiskan hampir setiap malam berada di gereja. Namun, aku yang begitu sibuknya, mengapakah tidak memiliki hati Kristus?
yaitu hati yang mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang dan hati yang penuh belas kasihan pada mereka yang menderita. Dengan mata yang berkaca-kaca aku meninggalkan kantorku. Bagiku ini adalah salah satu kado ulang tahun yang tidak terlupakan.
Tidak dapat dipungkiri, lingkungan yang begitu nyaman baik dirumah, gereja maupun kantor, membuat aku terbiasa dengan semua kenyamanan hidup. Teringat suatu hari, saat aku masih kuliah. Saat itu aku terbiasa naik bis untuk pergi dan pulang dari kampus. Ditengah jalan aku melihat orang gila, dengan rambut yang acak2an dan kotor. Janggut yang panjang dan baju yang robek dan kumuh. Aku memandang orang itu. Aku melihat dia seperti Tuhan Yesus. Ingin sekali melakukan sesuatu untuk orang itu. Tetapi ketakutanku menahanku, membuat aku hanya terpaku dan tidak melakukan suatu apapun. Sampai pada akhirnya bis datang dan membawaku pergi. Namun, sebuah penyesalan datang, tapi untuk apa? Ternyata rasa Ego dan ketakutanku lebih besar daripada rasa belas kasihanku.
Bahasa, Cross Project, Inspirational, Language, Testimonial


Hidup tanpa ketenangan jiwa adalah tidak bermakna, tapi hidup dengan pegangan agama akan membawa kepada kebahagiaan hidup.
Kebahagiaan dan damai sejati hanya didapat didalam Kristus. Dan setiap kita yang percaya terus bergumul dan bertumbuh mencapai kesempurnaan serupa dengan Kristus, yaitu sampai pada saat kedatangan Yesus kedua kalinya.