Berpikir, bertindak dan berperasaan seperti Kristus (2) [The first time on Jalan Kaca]
October 1, 2008 1 CommentSiang itu, matahari bersinar dengan teriknya. saya bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke jalan kaca. Topi, pakai hand body, dan melepas barang-barang berharga lainnya. Terbesit rasa takut dan khawatir dihati. Sudah sekian lama saya tidak pernah lagi naik bis lagi, semenjak saya punya sepeda motor. Dan lagi… ini pertama kalinya saya pergi ke Jalan kaca. Seperti apa ya disana? Kata teman-teman sih itu daerah kumuh.
Hand phone saya berdering, rupanya Soegi sudah menanti di gereja. Bergegas ku pergi ke gereja dengan motorku. Sesampainya disana, kulihat Soegi sudah menantiku di tangga di muka gerbang gereja. “Maaf, sudah menunggu lama ya?” kata saya. ” Kita naik apa ke jalan kaca? ”
“naik mikrolet dari depan Suntermal. ga papa kan?” jawab Soegi.
” o.. ya ga papa. Mana Yurika?”
” Ga tahu. saya sudah menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Sudah telat, kita pergi dulu aja.”
Akhirnya kami pergi berdua, berjalan kaki dari gereja kami, berjalan keluar dari kompleks perumahan Metro dan naik Kopaja 27 dari seberang. Sesampainya kami di depan Suntermal, Yurika menelpon Soegi, meminta agar kami menunggunya. Mau tak mau, kami turun di depan Suntermal, dan menunggu Yurika. Ternyata kami harusnya naik mikrolet 39 untuk dapat ke Jalan kaca.
Senda gurau mewarnai perjalanan kami bertiga. Tidak terasa kami sudah sampai ke depan jalan menuju jalan kaca. Berhubung mikroletnya tidak masuk ke jalan itu, kami harus berhenti dan melanjutkan berjalan kaki masuk kejalan tersebut. Sejujurnya saya terkejut, padahal wilayah itu masih dekat dengan kompleks perumahan yang bagus, tetapi yang saya lihat
adalah jalan dengan tanah merah yang tidak beraspal. Dapat terlihat lekukan tanah yang bekas roda kendaraan, bisa dibayangkan keadaan tanah tersebut jika hujan. Pasti becek dan berlumpur tanah, akan sulit untuk dilalui. Saya melihat tumpukan sampah di sisi sebelah kiri kami, yang menggunung seperti bukit, lengkap dengan baunya yang menyengat. Duh!… ku percepat langkah kakiku, berharap segera dapat melewati gunung sampah tersebut. Astaga, ini sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Rasanya seperti tidak berada di kota Jakarta. Saya mulai mengeluh tentang panasnya matahari, dan lelahnya berjalan menelusuri jalan yang sulit itu. “Tadi kita tidak memulai perjalananan kita dengan doa sih ya?!” kata Soegi.
“Memangnya kalau kita berdoa, kita tidak berjalan kaki seperti ini ya?” Tanya saya.
“o.. engga juga sih. Tapi yang pasti, kita akan menjalaninya dengan hati yang berbeda.”
Sebuah jawaban yang membuatku terdiam. Iya ya.. saya inikan sedang pelayanan, bukan sedang bertamasya. Mengapa saya mengeluh seperti ini?1 Akhirnya saya berusaha untuk menikmati perjalanan ini.
Setelah melewati bukit sampah itu, saya menjadi sedikit lebih lega, karena tidak terganggu dengn bau yang tidak mengenakkan itu. Saya melihat beberapa rumah yang terbuat dari papan, adapula yang sudah terbuat dari
beton , namun tergolong sangat sederhana. Jalan itu begitu sepi. Lalu sampailah kami disebuah jembatan yang ada danaunya. Bagi saya pemandangan di danau itu sangat indah. Seperti melihat surga ditengah neraka (hahahha… hiperbola banget dech!) ya.. mungkin itulah satu-satunya pemandangan yang indah di jalan kaca. Karena setelah itu, kami memasuki pemukiman kumuh yang padat, dipinggir kali yang kotor. Dapat dilihat CMK yang seperti bilik itu ada diatas kali.
Akhirnya kami sampai dirumah yang digunakan sebagai tempat persekutuan oleh Pak Paul. Sebuah rumah kecil dengan lantai hitam tidak berkeramik, namun bersih. Rupanya kami datang kepagian. Tidak ada ibu-ibu disana. Kami hanya menjumpai Pak Paul, istri serta anaknya yang berusia beberapa bulan dari pemilik rumah yang dengan baik hati mengijinkan pak paul dan ibu Ira melayani disana (red. sebagai catatan rumah itu sekarang sudah tergusur). Kami berkenalan dengan Pak Paul dan bermain dengan anaknya yang lucu itu.
Sekitar jam 15.30, mulailah saru persatu ibu-ibu berdatangan ke rumah tersebut untuk menghadiri persekutuan wanita. Kami bertiga mulai berpencar untuk berkenalan dengan ibu-ibu dan mengajak mereka untuk bergabung dalam cross project ini, berusaha menjelaskan pentingnya susu bagi perkembangan seorang anak. Akhirnya kami berhasil mendapatkan beberapa ibu-ibu yang mau bergabung. Kami mulai mendata mereka, dan bertapa terkejutnya kami, mengetahui tenyata beberapa diantara mereka punya banyak anak. Ada yang sampai 5 anak. “Waduh, sudah saatnya untuk KB, bu!” “Emangnya kalau punya banyak anak ga boleh ikut ya?” ” Hahahha.. bukan seperti itu, tapi kan banyak anak semkin banyak biaya yang harus dikeluarkan”
Dan lebih terkejutnya lagi, ternyata mereka bercerita, bahwa sebelumnya sudah pernah ada sebuah sekolah TK yang mengejari mereka membuat gantungan kunci juga dari mote-mote, dan mereka bisa memperoleh penghasilan dari sana. Jadi teringat kitab Pengkotbah, bahwa tidak ada yang baru di bawah kolong langit ini. Ada yang ada, sudah ada sebelumnya. Tapi kami memandangnya sebagai jalan yang sudah pernah Tuhan bukakan.
Lalu kami mampir ke rumah ibu Ira, tepat yang dipakai oleh pelayanan bimbingan belajar yang diadakan oleh tim diakonia GKY Sunter. Disana Yurika dan kawan-kawan sedang mengajar anak-anak. Keadaan yang ricuh dan berisik. Ada anak perempuan yang menangis karena diledekin temannya. Lalu Yurika memberikan hukuman angkat kaki pegang kuping. Sugi berpamitan karena masih harus melanjutkan perjalanannya untuk menemui drg. Samuel.
“von, joko tidak datang. ada anak-anak kelas 6 SD nich. Mau ajarin mereka ga?” tanya JImmy, koodinator bimbel (bimbingan belajar) ” oh, boleh aja.” jawabku. lalu beberapa anak menghapiriku, menanyakan rumus luas kerucut. ” luas kerucut? rumusnya apa ya?”
” ya.. kakak. justru saya tanya kakak. kok, kakak malah balik tanya?”, jawab salah satu anak.
“hahahah… iya, kakak uda lama lulus 6 SD. jadi uda lupa tuh… ” jadi malu sendiri… untung ada yang meminjamkan buku cetaknya dan ada rumus-rumusnya. jadi bisa ngajarin dech. hehheheh…
Akhirnya kami pulang juga. Karena mobil gereja sudah penuh, akhirnya Jimmy, Yurika, saya dan 2 orang rekan lainnya naik mikrolet menuju gereja. ya… inilah pengalaman pertamaku menginjakan kaki di jalan kaca. Sebuah perjalanan yang melelahkan, tapi juga berkesan. Saya tahu, mungkin saya belum sepenuhnya memiliki hati seperti Kristus yang penuh dengan belas kasihan. Boro-boro untuk memikul salib, menempuh perjalanan seperti itu saja sudah mengeluh. Hm…. sepertinya sebuah perjalanan panjang untuk mencapai semua itu. Tapi tak mengapa. minimal saya sudah berusaha untuk melangkah dan belajar. Sebuah proses pembelajaran yang berharga.
Dikemudian hari, dalam pelayanan ini, betapa senangnya hati saya menyaksikan kedatangan kami disambut oleh beberapa anak-anak yang kegirangan melihat susu yang kami bawakan. Dengan girangnya mereka membawa kotak susu itu, yang merupakan hak mereka atas jerih lelah sang ibu membuat gantungan kunci. a.. senang sekali pelayanan ini dapat menjadi berkat.
Bahasa, Inspirational, Language


sedikit perbaikan ^_^